Kebudayaan Sebagai Soft Power Diplomacy: Menbud Fadli Zon Perkuat Sinergi dengan 31 Dubes RI

Kementerian Kebudayaan RI menyelenggarakan Sawala Budaya untuk meningkatkan sinergi dalam upaya untuk mempertegas peran Indonesia dalam diplomasi internasional dan menguatkan diplomasi budaya Indonesia di Museum Nasional Indonesia, Jakarta, Selasa (22/4/2025). (Foto: Humas Kementerian Kebudayaan)
 

JAKARTA -- Kementerian Kebudayaan pada Selasa (22/4/2025) menyelenggarakan Sawala Budaya untuk meningkatkan sinergi dalam upaya untuk mempertegas peran Indonesia dalam diplomasi internasional dan menguatkan diplomasi budaya Indonesia. Berlokasi di Museum Nasional Indonesia, Jakarta, kegiatan ini melibatkan 31 Duta Besar (Dubes) Republik Indonesia (RI) Luar Biasa dan Berkuasa Penuh (LBBP) yang baru saja terpilih untuk menjalankan tugas diplomasi di berbagai negara.

Mengawali pertemuan, Menteri Kebudayaan (Menbud) RI Fadli Zon menyampaikan amanat konstitusi, yakni UUD 1945 Pasal 32 Ayat 1 yang menjadi landasan peranan kebudayaan Indonesia bagi peradaban dunia. Ia lantas menyampaikan jika pada pertemuan ini ingin menyoroti 2 hal, yakni narasi Indonesia sebagai negara mega diversity dan juga Indonesia sebagai peradaban tertua di dunia.

"Narasi ini kita ingin sampaikan pada dunia. Rencananya kita akan membuat film-film tentang ini, dan kami kirimkan ke negara-negara tempat para Duta Besar bertugas agar nanti ada subtitles dengan bahasa setempat," kata Menbud Fadli Zon.

Menbud Fadli Zon kemudian menyampaikan arah kebijakan Kementerian Kebudayaan tahun 2025, yang diturunkan melalui organisasi kerja, antara lain Direktorat Jenderal Pelindungan Kebudayaan dan Tradisi, yang melaksanakan perumusan dan pelaksanaan kebijakan di bidang pelindungan kebudayaan dan tradisi. Ia turut menyampaikan jika bidang permuseuman berada di dalamnya.

"Kita tengah berbenah dan perbaiki museum-museum di daerah agar layak dikunjungi. Museum Nasional Indonesia bisa menjadi benchmark. Namun tentu masih banyak yang perlu diperbaiki," jelas Menbud Fadli Zon. "Kebijakan berikutnya adalah diplomasi budaya melalui Direktorat Jenderal Diplomasi dan Promosi Kebudayaan. Melalui Ditjen ini diharapkan Kementerian Kebudayaan dapat menjalankan kebijakan diplomasi budaya untuk mengangkat keunikan Indonesia, memperkokoh citra di tataran global, sekaligus memperluas pengaruh strategis bangsa di tingkat internasional."

Kebijakan selanjutnya, ujar Menbud Fadli Zon, disampaikan melalui Direktorat Jenderal Pengembangan, Pemanfaatan, dan Pembinaan Kebudayaan. Melalui Ditjen ini Kementerian Kebudayaan berkeinginan agar dapat menyelaraskan kebijakan dengan tren budaya modern seperti budaya digital dan industri budaya yang memicu pertumbuhan ekonomi budaya. Termasuk di dalamnya, lanjut dia, adalah pop culture dan industri perfilman.

"Film itu penting karena era sekarang ini dunia perfilman lebih banyak ke co-production, menggunakan dukungan dana hingga tenaga insan perfilman, yang kini tren disebut funding production. Film kita sedang bagus, 67 persen pasar kita dipegang oleh film lokal. Saat ini kita juga memiliki Film Market melalui JAFF, yang mempertemukan stakeholders bidang perfilman dari berbagai negara," ujar Menbud Fadli Zon.

Kementerian Kebudayaan RI, sambung Menbud Fadli Zon, menempatkan budaya sebagai soft power untuk meningkatkan hubungan antarnegara dan daya tarik bangsa. Maka dari itu, Kementerian Kebudayaan juga memiliki visi besar untuk menjadikan Indonesia sebagai ibu kota kebudayaan dunia. Sebagai salah satu wujud komitmen tersebut, akan diselenggarakannya kembali World Culture Forum.

"Melalui para Duta Besar kami harapkan adanya MoU atau perjanjian kerja sama bidang kebudayaan dengan negara-negara di tempat para Dubes bertugas. Mulai dari repatriasi, perjanjian, dan Rumah Budaya Indonesia. Kita butuh dukungan para diaspora yang berada di negara-negara tempat para Duta Besar bertugas," jelas Menbud Fadli Zon. "Kita memiliki mimpi dan gagasan besar yaitu Indonesian Wave untuk melestarikan dan memperkenalkan budaya, termasuk seni, musik, film, dan kuliner Indonesia - seperti Korean Wave atau Japanese Wave."

Menutup paparannya, Menbud Fadli Zon menyampaikan delapan poin call to action kepada para dubes, yakni: mainstreaming budaya dalam program kerja sebagai salah satu upaya menghadapi global uncertainty; koordinasi dan fasilitasi pengusulan Intangible Cultural Heritage (ICH), World Heritage (WH) UNESCO; koordinasi dan fasilitasi repatriasi benda warisan budaya Indonesia; mendorong pembentukan dan pengembangan Rumah Budaya Indonesia (RBI); melibatkan dan meningkatkan peran diaspora; mendorong sister-city dengan fokus bidang kerja sama budaya serta mempromosikan kuliner bangsa; mendorong dan memfasilitasi kerja sama investasi dalam revitalisasi museum, cagar budaya, ekosistem budaya, serta joint production film, teater, musik dan seni rupa; dan pemanfaatan teknologi digital dengan memfasilitasi kerja sama dengan perusahaan teknologi untuk digitalisasi aset budaya, termasuk museum.

Kegiatan Sawala Budaya kemudian dilanjutkan dengan sesi tanya jawab antara Menbud Fadli Zon dengan para dubes terpilih. Para dubes terpilih menyambut baik dengan diadakannya kegiatan kali ini, dan memberikan masukan-masukan yang kiranya dapat membantu kebijakan yang diusung oleh Kementerian Kebudayaan.

Pada akhir diskusi para dubes menyampaikan harapan agar ada pertemuan yang dilakukan secara berkala melalui sarana daring agar kolaborasi dalam upaya pemajuan kebudayaan ini dapat berjalan dengan baik dan tentunya sesuai dengan arah kebijakan yang dikeluarkan oleh Kementerian Kebudayaan RI.


(rilis/dmr)