JAKARTA -- Popularitas para pendakwah di Indonesia tidak lahir secara instan. Di balik gaya ceramah yang komunikatif dan mudah diterima publik, terdapat fondasi pendidikan yang kuat dan beragam.
Dari tradisi kitab kuning di pesantren hingga pendidikan doktoral di universitas ternama luar negeri, latar keilmuan para ulama Indonesia menunjukkan kekayaan jalur pendidikan Islam di Tanah Air.
Sejumlah dai dikenal menempuh pendidikan akademik lintas negara. Ustadz Abdul Somad, misalnya, mengawali pendidikan di madrasah sebelum melanjutkan studi ke Universitas Al-Azhar Kairo dan Dar al-Hadith Maroko, hingga program doktoral di Sudan. Sementara Ustadz Adi Hidayat memadukan pendidikan pesantren dengan studi dakwah internasional di Libya, yang kemudian memperkuat kiprahnya sebagai pendidik dan narasumber kajian Islam.
Adapula ulama yang menekuni jalur pesantren secara mendalam. Gus Baha tumbuh dalam tradisi keilmuan Pondok Pesantren Al Anwar Rembang di bawah asuhan KH. Maimun Zubair. Meski tidak menempuh pendidikan luar negeri, kekuatan sanad keilmuan dan penguasaan kitab klasik menjadikannya rujukan penting dalam kajian keislaman Nusantara.
Sebagian pendakwah lain menempuh pendidikan tinggi di Timur Tengah. Buya Yahya belajar hampir satu dekade di Yaman, sementara Ustadz Syafi’i Riza Basalamah dan Firanda Andirja menyelesaikan pendidikan hingga jenjang doktoral di Universitas Islam Madinah dengan prestasi akademik tinggi. Jalur ini juga ditempuh oleh Khalid Basalamah, Nurul Dzikri, dan Hanan Attaki yang menimba ilmu di Mesir dan Arab Saudi.
Di sisi lain, ada dai dengan latar keilmuan lintas disiplin. Ustadz Das’ad Latief dikenal sebagai akademisi komunikasi dengan gelar doktor dari Malaysia dan Indonesia, sementara dr. Aisyah Dahlan membawa perspektif kesehatan dari latar belakang pendidikan kedokteran. Habib Husein Ja’far menekuni akidah, filsafat, serta tafsir Al-Qur’an di lingkungan akademik UIN Jakarta.
Keberagaman jalur pendidikan ini menunjukkan bahwa dakwah di Indonesia dibangun dari fondasi intelektual yang kaya. Perpaduan pesantren, kampus Islam, hingga universitas umum membentuk karakter pendakwah yang adaptif dan relevan dengan tantangan zaman.
Latar Pendidikan Para Ulama Populer di Indonesia
1. Ustadz Abdul Somad (UAS)
Ulama Akademis Internasional Ustadz Abdul Somad Batubara dikenal sebagai salah satu dai paling populer di Indonesia.
• SD Al-Washliyah Medan dan MTs/MA di pesantren dan madrasah.
• Beasiswa kuliah di Universitas Al-Azhar, Kairo, Mesir (S1).
• Dar al-Hadith al-Hasaniyyah di Maroko (setingkat S2).
• Universitas lslam Omdurman, Sudan (program doktoral).
• Pernah menjadi dosen di UIN Sultan Syarif Kasim Riau.
2. Ustadz Adi Hidayat
Diaspora lImu dari Pesantren ke Luar Negeri Adi Hidayat, akrab dipanggil UAH, memadukan pendidikan formal dan pesantren.
• Pendidikan awal di TK dan SD di Pandeglang serta madrasah salaf.
• Pondok Pesantren Darul Arqam Muhammadiyah Garut.
• International lslamic Call College, Tripoli, Libya untuk studi lanjut dalam ilmu dakwah dan bahasa Arab.
• Melanjutkan studi S2 Islam di Indonesia dan aktif menjadi narasumber pendidikan Islam.
3. Buya Yahya
Studi Tradisi Pesantren dan Studi Lanjut di Yaman. Buya Yahya, berasal dari Jawa Timur, menempuh pendidikan agama tradisional dan mendalam.
• SD sampai SMP di Blitar, dan pendidikan diniyah di pesantren setempat.
• Menimba ilmu selama 9 tahun di Universitas Al-Ahgaff, Yaman, belajar fiqih, ushul figh, ilmu bahasa Arab, dan hadis dari sejumlah ulama di Yaman.
• Selain itu, juga sempat mengajar di Fakultas Tarbiyah di Yaman.
4. Ustadz Syafi'ik Riza Basalamah
Lulusan Universitas Islam Madinah Syafi'k Basalamah merupakan dai yang menempuh pendidikan tinggi di Arab Saudi
• LIPIA Jakarta untuk persiapan bahasa Arab.
• S1, S2, dan S3 Fakultas Dakwah & Ushuluddin di Universitas lslam Madinah, lulus dengan predikat cum laude dari semua jenjang.
5. Ustadz Firanda Andirja
Pendidikan Tinggi di Madinah. Firanda Andirja adalah salah satu pendakwah yang memiliki latar pendidikan akademis tinggi di luar negeri.
• Belajar agama di Universitas Islam Madinah, termasuk program S1 Hadits, S2 Dakwah & Ushuluddin, dan S3 Jurusan Aqidah, lulus dengan predikat sum ma cum laude.
6. Gus Bahauddin Nursalim (Gus Baha)
Gus Baha tumbuh dari lingkungan pesantren tradisional Jawa.
• Pendidikan awal di Pondok Pesantren Al Anwar, Rembang yang diasuh KH. Maimun Zubair.
• Meski tidak kuliah di luar negeri, ilmu pesantrennya kuat serta memiliki sanad dan tradisi keilmuan yang panjang.
7. Mamah Dedeh
• Pernah belajar Islam di Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta sejak usia muda.
• Meski fokusnya lebih pada dakwah masyarakat dan mnedia TV, dasarnya tetap pendidikan formal Islam.
8. Ustadz Das'ad Latief
Seorang dosen dan peneliti di Universitas Hasanudin dengan spesifikasi keilmuan Public Relations. Ustadz Das'ad Latief menyelesaikan seluruh kesarjanaannya di bidang lImu Komunikasi.
• Pendidikan Strata 1 ditempuh di dua tempat sekaligus, yaitu Universitas lslam Negri (UIN) Alaudin pada bidang Peradilan Islam dan di Universitas Hasanudin pada bidang lImu Komunikasi.
• Pendidikan magister ustadz Das'ad diselesaikan di Universitas yang sama dalam bidang komunikasi.
• Keseriusannya dalam menuntut ilmu dibuktikannya dengan gelar P.hD dari Universitas Kebangsaan Malasyia dalam bidang llmu Komunikasi sekaligus gelar doktor kedua kalinya di Universitas Islam Makasar dalam bidang lImu Syariah.
9. Khalid Bassalamah
• Bersekolah hingga kelas 2 SMP di pondok pesantren di Makassar.
• Pada kelas 3 SMP ia dikirim pamannya untuk bersekolah di Kairo, Mesir.
• Setamat SMP, pada 1990 ia melanjutkan SMA di Madinah.
• Berkuliah program S-1 dakwah di Universitas Islam Madinah (1994- 1998).
10. Nurul Dzikri
• Sejak TK hingga memasuki usia SMA di Jakarta.
• S1 melanjutkan pendidikannya ke Imam Muhammad bin Su'ud University. la mengambil jurusan lImu Pengetahuan Syariah dan lulus tahun 2009.
11. Habib Husein Ja'far
• Pondok Pesantren YAPI Bangil di daerah Bangil, Kabupaten Pasuruan, Jawa Timur.
• Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta mengambil jurusan Agidah dan Filsafat Islam.
• Magister llmu Al-Qur'an dan Tafsir di universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta.
12. Dokter Aisyah Dahlan
Seperti yang dapat dilihat, beliau adalah seorang dokter.
• Fakultas Kedokteran Universitas Hasanuddin Makassar.
• Program Profesi di Fakultas Kedokteran Universitas Gajah Mada Yogyakarta.
13. Muhammad Nur Maulana
• Pondok Pesantren An- Nahdlah Ujung Pandang pada tahun 1994.
• Maulana juga merupakan Guru Agama lslam di sebuah SD Islam Athirah Makassar dan Pondok Pesantren An-Nahdlah Makassar.
14. Hanan Attaki
• Pondok pesantren Ruhul Islam Banda Aceh
• Al Azhar Kairo jurusan tafsir Quran
Melalui rekam jejak pendidikannya, semakin jelas tergambar bagaimana pendidikan membentuk pondasi intelektual para pendakwah Indonesia yang populer dan berpengaruh di era modern.
(***)
