Penting! Ketua Aliansi Kebangsaan Dorong RI Segera Bertransformasi ke Ekonomi Berbasis Pengetahuan, Ini Peta Jalannya

Ketua Aliansi Kebangsaan, Pontjo Sutowo. (Foto: Dok.Aliansi Kebangsaan)
REPUBLIKA; JAKARTA – Indonesia disebut masih terjebak dalam warisan ekonomi kolonial yang bergantung pada ekspor komoditas mentah dan minim nilai tambah. Untuk keluar dari jerat itu, transformasi menuju ekonomi berbasis pengetahuan (knowledge-based economy) menjadi sebuah keniscayaan. 

Hal ini menjadi benang merah dalam Forum Kelompok Terarah (FGD) bertajuk “Peta Jalan Transformasi Menuju Ekonomi Berbasis Pengetahuan” yang digelar Aliansi Kebangsaan secara daring pada Jumat (13/3/2026).

Ketua Aliansi Kebangsaan, Pontjo Sutowo, yang membuka forum tersebut menyatakan bahwa meskipun Indonesia telah merdeka secara politik sejak 1945, kemerdekaan ekonomi dan mental belum sepenuhnya tercapai.

"Indonesia masih menghadapi tantangan untuk keluar dari warisan ekonomi kolonial yang bergantung pada komoditas mentah dan minim industrialisasi bernilai tambah," ujar Pontjo dalam sambutannya.

Paradigma Baru Ekonomi Dunia


Pontjo menjelaskan bahwa perkembangan sains dan teknologi telah mengubah paradigma ekonomi global. Negara-negara maju kini tidak lagi bertumpu pada kekayaan alam, melainkan pada pengetahuan, teknologi, dan inovasi. Kekuatan suatu bangsa ditentukan oleh kapasitas ilmu pengetahuan dan teknologinya, bukan lagi oleh faktor alam seperti iklim atau letak geografis .

Pontjo mencontohkan negara-negara seperti Jepang, Korea Selatan, Singapura, Taiwan, dan China yang sukses meningkatkan kesejahteraan rakyatnya meski minim sumber daya alam (SDA). Sebaliknya, Indonesia yang kaya SDA justru masih bergelut dengan daya saing yang stagnan.

Tiga Tantangan Utama Transformasi

Dalam paparannya, Pontjo mengidentifikasi tiga kelemahan fundamental yang harus segera dibenahi:

*Kualitas SDM. Inovasi dan produktivitas sangat bergantung pada kemampuan intelektual dan teknologi SDM.
*Ekosistem Inovasi. Perlunya integrasi antara lembaga riset, perguruan tinggi, dunia usaha, dan pemerintah.
*Peran Dunia Usaha. Sektor bisnis harus aktif sebagai pengguna sekaligus pengembang hasil riset.

"Transformasi ekonomi tidak bisa hanya bergantung pada negara. Dunia usaha memiliki peran strategis dalam mengembangkan dan memasarkan hasil inovasi," tegas Pontjo.

Peta Jalan Menuju Indonesia Emas 2045

Forum yang menghadirkan narasumber dari kalangan akademisi dan pakar, di antaranya Prof. Ir. Agus Pakpahan, M.S., Ph.D (Rektor Universitas Koperasi Indonesia); Dr. Vivi Yulaswati, M.Sc (Deputi Bidang Ekonomi & Transformasi Digital Bappenas); Prof. Dr. Ir. Anugerah Widiyanto, BSc., M.Eng. (Direktur Kebijakan Ekonomi, Ketenagakerjaan, dan Pengembangan Regional BRIN); dan Prof. Ir. I Gede Wenten, M.Sc.,Ph.D (Akademi Ilmu Pengetahuan Indonesia); serta penanggap Yudi Latif, Ph.D (Ketua Yayasan Dana Darma Pancasila), ini juga menyoroti agenda transformasi ekonomi telah menjadi bagian integral dari Rencana Pembangunan Jangka Panjang Nasional (RPJPN) 2025–2045.

Transformasi ini bertujuan untuk mengubah struktur ekonomi dari berbasis SDA menuju ekonomi industri berteknologi tinggi. Langkah ini diharapkan dapat meningkatkan produktivitas, efisiensi, serta daya saing Indonesia di tingkat global dalam rangka mewujudkan visi Indonesia Emas 2045.

Namun, Pontjo mengingatkan bahwa transformasi harus tetap berlandaskan nilai-nilai Pancasila. "Transformasi menuju ekonomi berbasis pengetahuan harus tetap menjaga nilai-nilai kebangsaan dan bertujuan menciptakan kemakmuran yang berkeadilan," katanya.

Pontjo juga menekankan pentingnya peta jalan (roadmap) yang jelas dan terukur, mencakup pilar transformasi, kebijakan utama, tahapan implementasi, serta sinergi antara pemerintah, dunia usaha, dan lembaga pendidikan.

Pontjo berharap diskusi ini tidak berhenti sebagai wacana intelektual, tetapi melahirkan gagasan konkret yang bermanfaat bagi pembangunan ekonomi nasional. "Transformasi ekonomi adalah jalan penting bagi Indonesia untuk membangun ekonomi yang mandiri, inklusif, dan berdaya saing," tutupnya.

(Siaran Pers Aliansi Kebangsaan)