![]() |
| Universitas Nasional (Unas) menganugerahi gelar Profesor Kehormatan bidang/keilmuan politik dan kebudayaan untuk Menteri Kebudayaan Fadli Zon, Rabu (11/2/2026). (Foto: Fadli Zon) |
JAKARTA — Perjalanan panjang Fadli Zon di dunia intelektual dan kebudayaan mendapatkan pengakuan akademik tertinggi. Rabu (11/2/2026), Universitas Nasional (Unas) Jakarta resmi mengukuhkan Menteri Kebudayaan RI tersebut sebagai Profesor Kehormatan bidang Ilmu Politik dan Kebudayaan.
Bukan sekadar seremoni, pengukuhan ini menjadi tonggak yang merajut benang merah antara aktivisme, politik, dan kecintaan pada warisan budaya.
Rektor Unas, El Amry Bermawi Putera, dalam sambutannya menegaskan bahwa gelar ini bukan hadiah diplomatis, melainkan hasil penilaian objektif atas rekam jejak akademik dan pengabdian Fadli yang konsisten selama bertahun-tahun.
"Berdasarkan rekam jejak akademik, karya intelektual, serta pengabdian kebudayaan yang dilakukan secara konsisten dan berkelanjutan, saudara Fadli Zon memenuhi kriteria sebagai Profesor Kehormatan Universitas Nasional," ujar El Amry di kampus Unas, Pejaten, Jakarta Selatan.
Unas secara khusus menyoroti linearitas pemikiran Fadli dengan salah satu pendiri kampus tersebut, Sutan Takdir Alisjahbana (STA). Fadli dinilai mewarisi semangat STA yang menempatkan kebudayaan sebagai daya cipta dan kekuatan kemajuan bangsa, bukan sekadar ornamen masa lalu.
Momen pengukuhan ini bahkan sengaja digelar bertepatan dengan hari lahir STA, menjadikannya penghormatan simbolis atas estafet pemikiran budaya .
Dari Aktivis 98 hingga Guru Besar: Jejak Intelektual yang Panjang
Fadli Zon bukan nama baru di panggung intelektual Indonesia. Lahir di Jakarta, 1 Juni 1971, masa kecilnya dihabiskan di Cisarua, Bogor. Saat remaja, ia meraih beasiswa AFS ke Harlandale High School di Texas, Amerika Serikat, dan lulus dengan predikat summa cum laude.
Ia kemudian menekuni Sastra Rusia di Universitas Indonesia (UI) dan aktif di Senat Mahasiswa, sebelum melanjutkan studi Development Studies di London School of Economics and Political Science (LSE) hingga meraih gelar Master of Science pada 2002. Gelar doktoral di bidang Sejarah kembali diraihnya dari Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya UI pada 2016 .
Namun, yang membuat Unas menganugerahi gelar ini bukan sekadar deretan ijazah. Sejak 2018, Fadli tercatat sebagai pengajar di Unas. Sebelumnya, ia juga mengabdi selama lima tahun di almamaternya, UI. Artinya, ketika menerima gelar profesor kehormatan, ia sudah malang melintang di dunia pendidikan tinggi.
Orasi Ilmiah: Megadiversitas dan Klaim Indonesia sebagai Pusat Peradaban
Dalam orasi ilmiahnya yang bertajuk "Politik Kebudayaan Mega-Diversity: Indonesia sebagai Pusat Peradaban Dunia", Fadli tidak sekadar berteori. Ia membeberkan bukti-bukti arkeologis yang menurutnya menempatkan Indonesia sebagai salah satu pusat peradaban tertua di muka bumi.
Ia menunjuk lukisan cap tangan di Liang Metanduno, Pulau Muna, yang diperkirakan berusia minimal 67.800 tahun—jauh lebih tua dari seni cadas di Eropa. Ia juga menyebut temuan *Homo erectus* di Jawa yang menguasai 60 persen fosil dunia.
"Indonesia bukan bangsa yang baru lahir, melainkan salah satu pusat peradaban tertua umat manusia dan saksi awal lahirnya kemanusiaan itu sendiri," tegas Fadli di hadapan senat universitas .
Lebih jauh, Fadli memperkenalkan konsep civilization state untuk Indonesia. Menurutnya, Indonesia melampaui kerangka nation-state Westphalia. Dengan 1.340 kelompok etnis, 718 bahasa daerah, serta ribuan warisan budaya, Indonesia adalah negara peradaban yang berakar pada megadiversitas .
Museum, Artefak, dan Diplomasi Budaya
Gelar ini juga mengapresiasi kerja nyata Fadli di luar ruang kuliah. Unas mencatat dedikasinya dalam mendirikan berbagai museum dan rumah budaya, seperti Museum Keramik Nusantara, Museum Pusaka, hingga Museum Kujang. Inisiatif ini dinilai bukan sekadar tempat menyimpan barang antik, tetapi pusat edukasi dan riset yang hidup .
Sebagai kolektor, ia tercatat memiliki koleksi keris, korang tua, dan perangko terbanyak di Indonesia—bahkan memecahkan rekor MURI. Kecintaannya pada artefak membawanya ke berbagai museum dunia, dan ia kerap mendorong transformasi museum dalam negeri agar setara dengan standar internasional seperti Louvre atau British Museum .
Warisan STA dan Kehormatan yang Mengikat
Rektor Unas secara eksplisit menyebut bahwa Fadli Zon adalah penerus ideal gagasan Sutan Takdir Alisjahbana. STA percaya bahwa budaya adalah kekuatan kreatif, bukan sekadar warisan mati. Fadli, dengan segala kontroversi politiknya, dinilai berhasil menerjemahkan gagasan itu ke dalam kebijakan dan aksi nyata .
Fadli sendiri merendah. Ia menyebut gelar ini sebagai pemacu untuk lebih banyak berkontribusi, terutama dalam memperkuat identitas bangsa di tengah arus globalisasi. "Kebudayaan adalah memori kolektif bangsa yang terus hidup dan dinamis," ujarnya .
Pengukuhan ini dihadiri sejumlah pejabat Kabinet Merah Putih, antara lain Menko Bidang Pangan Zulkifli Hasan, Menteri HAM Natalius Pigai, Wamen Kebudayaan Giring Ganesha, dan Wamen Lingkungan Hidup Diaz Hendropriyono.
Di luar hiruk-pikuk politik praktis, Rabu itu Fadli Zon berdiri di mimbar akademik—bukan sebagai politisi, melainkan sebagai intelektual yang karya dan pemikirannya diakui secara objektif oleh dunia kampus.
(Humas Kementerian Kebudayaan, Pengukuhan Guru Besar Kehormatan Unas, 11 Februari 2026, Antara)
