![]() |
| Aktor Hollywood Leonardo DiCaprio menyuarakan kekhawatirannya terhadap arah industri bioskop dan perfilman global di tengah perubahan besar yang terjadi di tubuh studio film. (Foto: Ilustrasi/AI) |
JAKARTA — Di tengah gemerlap karier dan kesuksesan box office yang masih ia raih, Leonardo DiCaprio justru menyimpan kegelisahan. Bukan soal peran atau penghargaan, melainkan tentang masa depan bioskop—ruang gelap yang selama puluhan tahun menjadi jantung pengalaman menonton film.
Aktor Hollywood peraih Piala Oscar itu melihat perubahan besar yang berlangsung cepat di industri perfilman. Dalam wawancara dengan The Times yang dikutip Deadline, Sabtu (3/1/2026), DiCaprio menggambarkan situasi saat ini sebagai fase transisi yang belum pernah terjadi sebelumnya. Pola menonton penonton bergeser, sementara layar lebar perlahan kehilangan posisi utamanya.
Film dokumenter, menurut DiCaprio, hampir lenyap dari bioskop. Film drama pun kini hanya singgah sebentar sebelum akhirnya berpindah ke layanan streaming. Kebiasaan menunggu film tayang di rumah dinilai semakin lazim, memunculkan pertanyaan mendasar: masihkah publik memiliki hasrat untuk menonton film di bioskop?
DiCaprio bahkan mengibaratkan bioskop di masa depan bisa menjadi ruang yang semakin terisolasi—seperti bar jazz, dikunjungi segelintir penikmat setia. Tantangan terbesar, kata pria usia 51 tahun ini, adalah mengajak orang kembali duduk di kursi bioskop dan merasakan pengalaman sinematik secara utuh.
Meski cemas, DiCaprio belum menyerah pada pesimisme. Ia berharap akan muncul sineas-sineas visioner yang berani menawarkan pengalaman unik—sesuatu yang hanya bisa dirasakan di layar lebar, bukan di layar ponsel.
Ironisnya, kegelisahan itu muncul justru ketika film terbarunya, One Battle After Another, arahan Paul Thomas Anderson, mencetak pendapatan global lebih dari 205 juta dolar AS. Sebuah bukti bahwa bioskop masih bernyawa, meski masa depannya terus dipertanyakan.
(***)
