![]() |
Pemerintah memastikan persiapan penyelenggaraan ibadah haji di Arab Saudi terus menunjukkan progres positif. (Foto: Ilustrasi/Pixabay)
|
Menteri Haji dan Umrah (Menhaj) RI Mohammad Irfan Yusuf menyampaikan bahwa proses persiapan di Tanah Suci telah memasuki tahap signifikan. Sejumlah keputusan penting pun telah ditetapkan, mulai dari mitra layanan hingga kepastian lokasi pelaksanaan puncak ibadah haji.
“Kita sudah memastikan dua syarikah yang akan melayani jamaah haji Indonesia. Selain itu, lokasi-lokasi di Armuzna, yakni Arafah, Muzdalifah, dan Mina, juga sudah dipastikan,” kata Irfan Yusuf di Asrama Haji Pondok Gede, Jakarta, Kamis (8/1/2026).
Irfan menjelaskan, layanan utama bagi jamaah haji sebagian besar telah siap. Untuk sektor transportasi dan konsumsi, persiapannya bahkan telah mencapai 100 persen. Sementara itu, akomodasi di Madinah telah terealisasi sekitar 93 persen.
“Memang untuk akomodasi di Makkah progresnya belum terlalu signifikan. Namun insyaAllah dalam waktu dekat bisa kita pastikan dan segera rampung,” kata Irfan.
Dalam proses penetapan penyedia layanan, Irfan mengakui adanya tantangan, terutama dari berbagai pihak yang berupaya memasukkan kepentingan agar jasanya digunakan. Meski demikian, ia menegaskan pemerintah tetap berpegang pada prinsip akuntabilitas dan transparansi. “Prinsip kita tetap lurus. Setiap proses harus akuntabel dan transparan demi kepentingan jamaah,” tegasnya.
Kabar baik juga datang dari sektor penerbangan. Irfan memastikan seluruh jadwal penerbangan jamaah haji telah difinalisasi lebih awal dibanding tahun sebelumnya. Jika tahun lalu penetapan jadwal dilakukan mendekati waktu keberangkatan, tahun ini seluruh proses telah disiapkan jauh-jauh hari.
“Permintaan jam terbang ke Saudi sudah diajukan oleh dua maskapai, yaitu Saudia Airlines dan Garuda Indonesia. InsyaAllah tidak ada kendala signifikan untuk penerbangan,” cetus Irfan.
Selain di Arab Saudi, kesiapan di dalam negeri juga terus dimatangkan. Tahun ini, pemerintah menambah dua embarkasi baru, yakni Embarkasi Banten untuk melayani sebagian jamaah dari Jawa Barat, serta Embarkasi Yogyakarta.
Embarkasi Yogyakarta menjadi perhatian tersendiri karena untuk pertama kalinya pemerintah membuka embarkasi tanpa asrama haji. Sebagai gantinya, hotel digunakan untuk menampung jamaah baik saat persiapan keberangkatan maupun kepulangan.
“Ini cukup istimewa dan bisa menjadi model baru. Kita berharap pola embarkasi tanpa asrama haji ini bisa diterapkan di daerah lain,” ujar Irfan.
Di sisi lain, Irfan tidak menutup mata terhadap kondisi sejumlah asrama haji yang masih membutuhkan pembenahan. Pemerintah berupaya melakukan perbaikan fisik agar seluruh asrama dalam kondisi layak sebelum musim haji dimulai. “Kita upayakan sebelum hari H keberangkatan, asrama-asrama yang kurang layak bisa diperbaiki,” pungkasnya.
Dengan progres yang terus bergerak maju, Kemenhaj optimistis penyelenggaraan ibadah haji tahun ini dapat berlangsung lebih tertib, aman, dan memberikan kenyamanan maksimal bagi jamaah Indonesia.
(***)
