Satu Tahun Jejak Langkah Puspadaya: Hadirkan Dokumenter Perjalanan Pendampingan Korban

Pusat Layanan Perempuan, Anak, Disabilitas, dan Pemberdayaan (Puspadaya) menyelenggarakan seremonial peringatan 1 tahun berdirinya pada Kamis (30/4/2026), di Teater Audio Visual Kemendikdasmen Jakarta. (Foto: Dok.Puspadaya)
JAKARTA -- Pusat Layanan Perempuan, Anak, Disabilitas, dan Pemberdayaan (Puspadaya) menyelenggarakan seremonial peringatan 1 tahun berdirinya pada Kamis (30/4/2026), di Teater Audio Visual Kemendikdasmen Jakarta. Peringatan ini menandai satu tahun perjalanan komunitas yang resmi berdiri pada 21 April 2025 lalu.

Peringatan ini juga menjadi sebuah tonggak penting dalam kiprah Puspadaya yang berdedikasi mendampingi perempuan, anak-anak, dan disabilitas, korban kekerasan di Indonesia.

Pada momen bersejarah ini, Puspadaya menampilkan dokumenter perjalanannya dalam pendampingan yang memuat kesaksian langsung dari keluarga penyintas dan juga bentuk pemberdayaan Puspadaya berupa Beasiswa Kita. Dokumenter ini menjadi nilai visual untuk menyuarakan pengalaman para korban yang selama ini kerap terbungkam, sekaligus menunjukkan betapa pentingnya kehadiran Puspadaya dalam proses pemulihan dan perjuangan keadilan bagi para penyintas.

“Satu tahun itu mungkin terasa singkat tetapi perjalanan yang dilakukan tidak mudah. Saat mereka (korban) ketakutan, trauma dan menderita, atau saat mereka terabaikan, Puspadaya mendampingi sampai masyarakat bisa berdaya kembali. Tentu butuh proses dan dukungan bersama,” ujar Sekretaris Jenderal Puspadaya, Amriadi Pasaribu, Kamis (30/4/2026).

Tak hanya itu, Puspadaya juga memasang art installation sebagai pelaporan publik rekam jejak perjalanan komunitas selama satu tahun. Instalasi tersebut menampilkan rangkaian proses pendampingan secara menyeluruh, mulai dari pendampingan psikologis, proses visum, hingga kasus tindak pidana yang berujung pada putusan hukuman terhadap tersangka.

Melalui art installation ini, pengunjung diajak untuk memahami betapa panjang dan berliku perjuangan yang harus ditempuh oleh para korban dan keluarga mereka dalam mencari keadilan.

“Kami tentunya berharap kejadian yang sama tidak terulang pada kasus-kasus yang kami tangani. Tapi jika masih ada dan terjadi, kami tentu siap membersamai masyarakat,” ucap Bendahara Umum Puspadaya, Rahmi A Kamila. 

Suasana haru mewarnai jalannya acara ketika film dokumenter ditayangkan. Cerita jujur dari penyintas masuk ke dalam hati undangan. Para undangan tampak menitikkan air mata menyaksikan perjuangan para keluarga penyintas yang dengan penuh keberanian membagikan kesaksian mereka di hadapan publik. 

Tangis haru menggema di ruang Teater Audio Visual Kemendikdasmen, menjadi cerminan betapa berartinya kehadiran Puspadaya dalam satu tahun terakhir. Terutama bagi mereka yang pernah merasa sendirian menghadapi kekerasan.

Acara ini turut dihadiri oleh Komnas Perempuan, KPAI, LPSK, perwakilan Pegadaian, dan Organisasi Penggerak dan Pemerhati Perempuan. Selain itu, dukungan MNC University sebagai salah satu mitra pemberdayaan Puspadaya juga turut hadir di agenda acara hari ini.

Kehadiran mereka menjadi bentuk dukungan nyata terhadap gerakan perlindungan perempuan dan anak yang terus diupayakan oleh komunitas Puspadaya.

Menapaki tahun kedua, komunitas Puspadaya menegaskan komitmennya untuk terus hadir mendampingi masyarakat, khususnya perempuan, anak dan disabilitas yang membutuhkan perlindungan. Komunitas ini percaya bahwa setiap korban berhak mendapatkan pendampingan yang menyeluruh, baik secara psikologis maupun hukum, demi terwujudnya keadilan yang sesungguhnya. 

Layanan Puspadaya yang mencakup konsultasi psikologis dan pendampingan hukum dapat diakses melalui kanal media sosial Instagram @puspadaya.official.

(Siaran Pers Puspadaya)