PMPP TNI Gandeng SyaREA World, 500 Perwira dan Pengusaha Dilatih Kelola Keuangan tanpa Utang Demi Kedaulatan Ekonomi

Pusat Misi Pemeliharaan Perdamaian (PMPP) TNI bekerja sama dengan SyaREA World menggelar pelatihan praktis Cara Cerdas Kelola Uang (CCKU) 2026 di Bogor, akhir pekan lalu. (Foto: Dok. PMPP TNI)
BOGOR -- Upaya membangun ketahanan bangsa tidak lagi hanya dipandang dari sisi kekuatan pertahanan dan keamanan. Kedaulatan ekonomi keluarga kini dinilai menjadi bagian penting dalam menjaga ketahanan nasional.

Berangkat dari pemikiran tersebut, Pusat Misi Pemeliharaan Perdamaian (PMPP) TNI bekerja sama dengan SyaREA World menggelar pelatihan praktis Cara Cerdas Kelola Uang (CCKU) 2026 di Bogor, akhir pekan lalu. Kegiatan yang mengusung tema “Bela Negara Melalui Kedaulatan Ekonomi” itu diikuti sekitar 500 peserta dari berbagai kalangan, mulai dari personel TNI, aparatur pemerintah, aparat keamanan, hingga para pengusaha.

Program bela negara berbasis literasi keuangan tersebut mendapat dukungan dari Zeberline sebagai kelompok usaha penyedia energi fosil dan energi terbarukan di Indonesia. Selain itu, sejumlah perusahaan dan komunitas bisnis seperti GEA-Gerai Emas Logam Mulia, Turrima AgroTech, serta berbagai entitas usaha yang tergabung dalam SyaREA World turut berpartisipasi dalam pelaksanaannya.

Peserta pelatihan berasal dari berbagai institusi strategis, di antaranya PMPP TNI, BAIS TNI, Pusdikzi, Lanud Atang Sanjaya, Mabes TNI, Kementerian Pertahanan, Universitas Pertahanan, BNPT, hingga BNPP. Hadir pula perwakilan Forkopimda Kota dan Kabupaten Bogor, Korem 061, sejumlah Kodim, serta unsur kepolisian.

Dari total peserta, lebih dari 300 orang berasal dari kalangan aparatur negara dan institusi pertahanan-keamanan. Sementara sisanya merupakan anggota komunitas SyaREA World yang dikenal sebagai komunitas pengusaha dengan prinsip usaha tanpa riba.

Bela Negara tak Hanya Soal Senjata

Komandan PMPP TNI Mayjen TNI Iwan Bambang Setiawan menegaskan bahwa ketahanan bangsa tidak semata ditentukan oleh kekuatan militer, tetapi juga oleh kemampuan keluarga menjaga stabilitas ekonominya.

Menurutnya, literasi keuangan menjadi bagian penting dari implementasi bela negara di era modern.

“Di sisi ekonomi kita juga ingin merdeka. Dan kegiatan ini merupakan investasi jangka panjang karena informasi dan pembelajaran yang kita dapatkan bisa mengubah langkah ke depan agar lebih berhati-hati sehingga anak cucu juga selamat di masa mendatang,” ujar Iwan.

Pusat Misi Pemeliharaan Perdamaian (PMPP) TNI bekerja sama dengan SyaREA World menggelar pelatihan praktis Cara Cerdas Kelola Uang (CCKU) 2026 di Bogor, akhir pekan lalu. (Foto: Dok. PMPP TNI)

Iwan menilai keluarga yang tangguh secara ekonomi merupakan fondasi utama ketahanan nasional. Sebaliknya, rendahnya literasi keuangan dan ketergantungan terhadap utang yang tidak terkendali dapat memunculkan berbagai kerentanan sosial maupun ekonomi yang berdampak luas.

PMPP TNI juga menyoroti sejumlah ancaman nonmiliter yang saat ini dihadapi Indonesia, antara lain disinformasi, serangan siber, penyalahgunaan teknologi digital, serta berbagai tantangan ekonomi dan sosial yang berpotensi melemahkan persatuan, stabilitas, dan daya saing bangsa.

Karena itu, dibutuhkan masyarakat yang cerdas, tangguh, dan adaptif dalam menghadapi berbagai perubahan zaman, termasuk dalam aspek pengelolaan keuangan keluarga.

Belajar Mengatur Arus Kas hingga Melunasi Utang

Pelatihan CCKU dirancang tidak hanya memberikan teori, tetapi juga latihan praktis yang dapat langsung diterapkan peserta dalam kehidupan sehari-hari.

Selama pelatihan, peserta diajak menyusun rencana keuangan pribadi dan keluarga, memetakan arus kas, mengevaluasi strategi pelunasan utang, serta merancang masa depan finansial yang lebih sehat tanpa ketergantungan pada skema pembiayaan berbasis utang.

Fasilitator SyaREA World, dr. Karmono Sutadi, Sp.A., menegaskan bahwa masalah keuangan tidak selalu berkaitan dengan besar kecilnya penghasilan seseorang.

“Urusan keuangan tidak ada hubungannya dengan besar kecilnya penghasilan. Problem keuangan banyak disebabkan oleh kesalahan pengelolaan uang,” kata Karmono.

Menurut dia, kemampuan mengelola uang membutuhkan aturan dan disiplin yang konsisten. Tanpa pengelolaan yang baik, seseorang berpotensi terjebak dalam siklus utang yang berkepanjangan dan berdampak pada berbagai aspek kehidupan.

Karmono mengingatkan bahwa utang yang tidak terkendali tidak hanya menimbulkan tekanan ekonomi, tetapi juga dapat merusak hubungan sosial, mengganggu keharmonisan keluarga, menghilangkan ketenangan hidup, hingga menutup peluang merencanakan masa depan.

Kedaulatan Ekonomi sebagai Bentuk Bela Negara

Dalam paparannya, Karmono juga menyinggung sejumlah negara yang pernah mengalami krisis akibat persoalan utang dan buruknya tata kelola ekonomi, seperti Yunani, Zimbabwe, Sri Lanka, dan Nigeria.

Pusat Misi Pemeliharaan Perdamaian (PMPP) TNI bekerja sama dengan SyaREA World menggelar pelatihan praktis Cara Cerdas Kelola Uang (CCKU) 2026 di Bogor, akhir pekan lalu. (Foto: Dok. PMPP TNI)
Menurut Karmono, pengalaman negara-negara tersebut menjadi pelajaran penting bahwa ketergantungan terhadap utang dapat mengancam kedaulatan ekonomi suatu bangsa.


“Indonesia jangan sampai mengalami hal yang sama. Karena itu kami berusaha melakukan edukasi, bukan hanya kepada komunitas, tetapi kalau bisa kepada bangsa ini. Jebakan utang adalah bentuk neo-imperialisme ekonomi. Tidak ada satu pun dari kita yang rela kedaulatan negeri ini tergadai karena utang,” jelas Karmono

Karmono menambahkan bahwa edukasi keuangan merupakan salah satu bentuk kontribusi nyata warga negara dalam memperkuat ketahanan nasional sesuai bidang dan kapasitas masing-masing.

Tiga Prinsip Menghindari Overspending

Dalam sesi pelatihan, peserta diperkenalkan pada tiga prinsip dasar agar tidak terjebak perilaku konsumtif berlebihan atau overspending.

Prinsip pertama adalah survival, yakni mendahulukan kebutuhan yang benar-benar esensial. Kedua, better life, yaitu memastikan setiap pengeluaran memberikan dampak positif terhadap peningkatan kualitas hidup. 

Ketiga, getting more money, yang menekankan bahwa pengelolaan uang harus mampu membuka peluang peningkatan pendapatan dan produktivitas, bukan sekadar konsumsi.

Peserta juga diajak memahami bahwa penyelesaian utang masa lalu merupakan langkah penting sebelum membangun masa depan keuangan yang sehat dan berkelanjutan.

SyaREA World menyebut sebagian besar anggota komunitasnya berhasil keluar dari utang konsumtif dan mengembangkan usaha melalui penguatan arus kas (cash flow), efisiensi, serta peningkatan profitabilitas, tanpa bergantung pada pembiayaan utang.

Pada sesi penutup, pelatihan tidak hanya membahas aspek teknis keuangan, tetapi juga menekankan pentingnya memahami tujuan hidup sebagai fondasi dalam mengambil keputusan finansial.

Menurut fasilitator, seseorang yang memiliki arah hidup yang jelas akan lebih mudah menyelaraskan pengelolaan keuangan dengan nilai-nilai kehidupan, tanggung jawab keluarga, serta tujuan jangka panjang.

Dengan demikian, pengelolaan keuangan tidak hanya menjadi sarana mencapai kesejahteraan, tetapi juga bagian dari upaya membangun kehidupan yang lebih terarah, bermakna, dan memiliki daya tahan menghadapi berbagai tantangan. (*)