Kepala SD Intan Permata Hati Surabaya, Dewa Made, mengakui bahwa meski sekolahnya mengadopsi kurikulum Cambridge, TKA menjadi alat vital untuk memastikan para siswa tidak kehilangan pijakan terhadap standar kompetensi nasional.
"Harapannya TKA ini bisa terus berjalan sehingga kami bisa mengukur kemampuan murid sesuai standar kurikulum pemerintah," ujar Dewa Made saat ditemui di Surabaya, Rabu (22/4) lalu.
Dewa Made juga mengungkapkan antusiasme orang tua cukup tinggi. Mereka ingin melihat secara transparan sejauh mana kemampuan anak-anaknya jika diukur dengan tolok ukur nasional, bukan hanya standar internasional.
Wakil Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Wamendikdasmen), Atip Latipulhayat, menegaskan bahwa evaluasi berkala seperti TKA bukan sekadar nilai. "Orientasinya pada kualitas pembelajaran, kualitas hasil pendidikan. Tanpa evaluasi, kita tidak akan pernah tahu kekurangannya di mana," jelas dia.
Dalam kunjungannya, Wamen Atip menyoroti bahwa TKA membantu mengidentifikasi kelemahan mulai dari kompetensi guru, metode belajar, hingga kelengkapan fasilitas. Tak hanya itu, ia pun mengkampanyekan konsep lingkungan sekolah yang ASRI: Aman, Sehat, Resik, dan Indah.
"Lingkungan yang ASRI sangat berpengaruh penting untuk tercapainya pendidikan yang bermutu," pesan Wamen Atip.
Senada dengan itu, perwakilan bagian kurikulum SD Intan Permata Hati, Fani, menambahkan bahwa TKA menjadi cermin bagi para guru. "Kami bisa mengevaluasi jika nanti nilainya ada yang perlu dibantu, kami bisa memberikan lebih lagi," cetus dia.
Dengan langkah ini, sekolah internasional dan nasional kini punya pijakan evaluasi yang sama: TKA dari Kemendikdasmen.
(Sumber: Kemendikdasmen)
