Dari Cannes ke Tanah Suci: Indonesia–Arab Saudi Jajaki "Koalisi Film" untuk Guncang Pasar Sinema Global

Pertemuan antara Menteri Kebudayaan RI Fadli Zon (kiri) dengan Film Commission dan Red Sea Program Director dari Arab Saudi, Abdullah Alayaf, di Prancis, pada Rabu (13/5/2026). (Foto: Humas Kementerian Kebudayaan)

JAKARTA – Di tengah gemerlap Festival Film Cannes 2026 Prancis, Indonesia tidak hanya hadir untuk pamer gaun di karpet merah. Sebuah manuver diplomasi budaya yang senyap namun menjanjikan sedang dirintis: kolaborasi perfilman strategis antara Indonesia dan Arab Saudi. 

Dua negara berpenduduk mayoritas Muslim terbesar ini tengah merajut "koalisi film" yang berpotensi mengguncang lanskap sinema global. Pertemuan bilateral tingkat tinggi terjadi di sela-sela festival film paling bergengsi di dunia itu. 

Pemerintah Indonesia dan Arab Saudi, melalui perwakilan mereka, duduk bersama membahas cetak biru kerja sama sinematik jangka panjang. Dalam diskusi tersebut, mengemuka narasi besar bahwa perfilman harus menjadi jembatan diplomasi budaya yang menyatukan potensi besar dunia Muslim.

"Sebagai negara dengan populasi Muslim terbesar di dunia, Indonesia memandang bahwa kita memiliki aspirasi bersama dengan Arab Saudi dalam mentransformasikan potensi budaya, demografi, dan kreativitas dunia Muslim menjadi kekuatan penting dalam industri perfilman dan audiovisual global," ujar Menteri Kebudayaan RI Fadli Zon, memaparkan visi besarnya di hadapan Abdullah Alayaf selaku Film Commission dan Red Sea Program Director Arab Saudi, Rabu (13/5/2026).

Pernyataan itu mengandung optimisme yang beralasan. Indonesia baru saja membuktikan taringnya dengan dua film nasional—Jumbo dan Agak Laen 2—yang masing-masing berhasil melampaui 10 juta penonton domestik hanya dalam kurun satu tahun. Sebuah capaian fantastis yang menjadi modal kuat untuk melirik panggung internasional.

Memanfaatkan Benang Merah Sejarah

Yang membuat kolaborasi ini semakin menarik adalah ikatan historis yang tak terbantahkan. Fadli Zon menyoroti benang merah antara Indonesia dan Arab Saudi yang telah terjalin sejak lama. "Banyak tokoh pejuang Indonesia yang melakukan ibadah haji dan kembali ke Indonesia menjadi pahlawan bangsa. Hal ini menunjukkan ikatan sejarah yang kuat antara kedua negara," kenangnya.

Pengakuan ini disambut positif oleh pihak Arab Saudi. Abdullah Alayaf menyatakan minat serius untuk memperkuat kolaborasi dan berharap semakin banyak film Indonesia yang masuk ke bioskop-bioskop di Saudi. Ini sinyal penting mengingat Saudi tengah agresif membuka diri di sektor hiburan sebagai bagian dari Visi 2030.

Jembatan Platform dan Festival

Kerja sama ini tidak hanya berhenti pada retorika. Pemerintah Indonesia secara konkret mendorong penguatan hubungan antara Red Sea International Film Festival dengan berbagai platform perfilman nasional. Dua nama besar disebut: Jogja-NETPAC Asian Film Festival (JAFF) dan Jakarta Film Week.

"Kolaborasi antarplatform mampu membuka peluang yang lebih besar bagi sineas dari Asia dan Timur Tengah, termasuk dalam pengembangan film pendek maupun film panjang," tegas Fadli Zon.

Langkah ini juga merupakan tindak lanjut dari pertemuan sebelumnya dengan His Highness Badr bin Abdullah Al Saud di Jakarta. Artinya, kedua negara memang serius membangun fondasi kemitraan yang berkelanjutan, bukan sekadar seremoni.

Mendorong Ekosistem dari Dalam

Sembari membuka pintu kolaborasi global, pemerintah juga menegaskan komitmen untuk memperkuat ekosistem perfilman nasional dari dalam. Program pengembangan manajemen talenta nasional, peningkatan kapasitas sineas daerah, dan fasilitasi partisipasi insan film Indonesia di festival internasional terus digenjot.

Yang paling penting, ada visi untuk mendorong tumbuhnya pusat-pusat kreativitas perfilman di daerah. Tujuannya jelas: agar ekosistem film nasional tidak melulu bertumpu di Jakarta, tetapi berkembang lebih merata ke seluruh pelosok negeri.

"Kami ingin membangun kemitraan jangka panjang yang memperkuat diplomasi budaya, mendukung talenta kreatif, dan memperluas kolaborasi perfilman Indonesia dengan komunitas film global, termasuk bersama Arab Saudi sebagai sesama negara dengan populasi Muslim besar dunia yang memiliki banyak kesamaan dalam hal nilai-nilai kemanusiaan," pungkas Fadli Zon, menutup pertemuan dengan optimisme tinggi.

(Kementerian Kebudayaan)