Pembahasan tersebut mengemuka saat Menteri Kebudayaan menerima audiensi akademisi Shofwan Al Banna Choiruzzad bersama dua tokoh asal Palestina, Dr. Thoriq dan Dr. Saleh, di Kantor Kementerian Kebudayaan, Jakarta, Rabu (21/5/2026).
Pertemuan itu membahas berbagai peluang kolaborasi, mulai dari preservasi artefak budaya Palestina, pengembangan museum, hingga penyelenggaraan pameran budaya di Indonesia.
Dalam audiensi tersebut, Shofwan menyampaikan apresiasi atas keterbukaan pemerintah Indonesia dalam mendukung penguatan hubungan budaya kedua negara.
Sementara itu, Dr. Thoriq yang berdomisili di Ramallah menjelaskan yayasan yang mereka kelola memiliki fokus utama pada perlindungan warisan budaya Palestina di tengah situasi konflik yang berkepanjangan.
“Kami memiliki misi menjaga artefak dan warisan budaya Palestina, memberdayakan masyarakat lokal, serta memperkuat edukasi agar masyarakat memiliki ketahanan dalam memperjuangkan keadilan,” ujar Dr. Thoriq.
Ia menilai budaya memiliki peran penting dalam menjaga identitas bangsa Palestina di tengah tekanan sosial dan politik yang terus berlangsung.
Dalam kesempatan yang sama, Dr. Saleh juga menyampaikan apresiasi terhadap konsistensi sikap Indonesia yang selama ini mendukung perjuangan rakyat Palestina di berbagai forum internasional.
Ia menggambarkan kondisi masyarakat Palestina, khususnya di wilayah Tepi Barat, yang saat ini menghadapi berbagai keterbatasan akibat konflik berkepanjangan.
“Masyarakat menghadapi pembatasan mobilitas, akses pendidikan yang sulit, hingga tekanan sosial dan ekonomi yang berat,” kata Dr. Saleh.
Diskusi kemudian berkembang pada peluang pengembangan museum budaya Palestina di Indonesia, termasuk kemungkinan kerja sama antarmuseum dan penyelenggaraan pameran tematik untuk memperkenalkan sejarah serta budaya Palestina kepada publik Indonesia.
Menbud Fadli Zon menilai kerja sama budaya harus dibangun secara serius dengan konsep yang kuat, termasuk dari sisi narasi dan sumber daya manusia.
“Substansi merupakan hal penting, mungkin melalui pameran, storytelling, dan bagaimana Indonesia menunjukkan dukungan terhadap Palestina, baik dari pemerintah maupun parlemen,” ujar Fadli Zon.
Dalam pertemuan tersebut, Fadli turut didampingi Tenaga Ahli Menteri Kebudayaan, Neno Warisman.
Selain pengembangan museum, pembahasan juga mencakup peluang dukungan lintas sektor melalui kolaborasi dengan berbagai lembaga dan pemangku kepentingan untuk memperkuat program budaya dan kemanusiaan terkait Palestina.
Kementerian Kebudayaan menilai diplomasi budaya dapat menjadi salah satu instrumen penting dalam membangun solidaritas antarbangsa sekaligus memperkuat hubungan bilateral Indonesia dan Palestina.
Kerja sama ini juga sejalan dengan komitmen Indonesia dalam mendukung pelestarian warisan budaya dunia dan memperkuat nilai-nilai kemanusiaan melalui pendekatan kebudayaan.
(Kementerian Kebudayaan)
