Perspektif tersebut menjadi salah satu pembelajaran dalam pertemuan khusus Keluarga Besar SyaREA World bertema “Kecerdasan Militer untuk Kepemimpinan Bisnis” yang berlangsung pada Selasa (6/10/2026) di Masjid Baret Biru Al-Mujahidin, Markas Pusat Misi Pemeliharaan Perdamaian (PMPP) TNI, Bogor, Jawa Barat.
Kegiatan ini diikuti sekitar 200 pengusaha anggota SyaREA World bersama anak-anak lelaki mereka. Pertemuan tersebut mempertemukan pengalaman dunia usaha dengan nilai-nilai kepemimpinan yang selama ini dibangun dalam lingkungan militer.
Para peserta mengenakan kemeja putih, peci hitam, dan sarung. Dari kawasan Sentul, mereka menuju lokasi kegiatan menggunakan bus TNI dan truk PMPP. Satu rombongan peserta bahkan datang menggunakan bus dari Lampung.
Membaca Situasi dan Menentukan Langkah
Komandan PMPP TNI Mayjen TNI Iwan Bambang Setiawan mengatakan, kemampuan membaca situasi merupakan bagian penting dari kecerdasan seorang pemimpin. Menurut dia, perubahan keadaan tidak boleh membuat pemimpin kehilangan ketenangan dalam menentukan langkah.
“Menurut saya, kecerdasan yang paling penting adalah kemampuan membaca situasi, mengolah informasi, dan beradaptasi terhadap perubahan. Dalam dunia usaha maupun militer, situasi tidak selalu sesuai rencana, sehingga pemimpin harus tetap tenang dan mampu mengambil langkah yang tepat untuk mencapai tujuan,” ujar Mayjen Iwan.
Mayjen Iwan juga menekankan pentingnya kemampuan mengubah hasil pemikiran menjadi keputusan dan tindakan. Menurutnya, kemampuan melihat peluang harus berjalan beriringan dengan keberanian memperhitungkan risiko.
“Melihat peluang saja tidak cukup. Seorang pemimpin harus mampu mengolah informasi, memperhitungkan risiko, berani mengambil keputusan dan mengubah keputusan menjadi tindakan,” kata Mayjen Iwan.
Ketika situasi berubah, seorang pemimpin tidak harus selalu mempertahankan cara yang sama. Hal terpenting adalah memastikan arah dan tujuan tetap terjaga.
“Cara boleh disesuaikan, tapi tujuan harus tetap dijaga,” tegas Mayjen Iwan.
Kecerdasan Harus Berujung pada Tindakan
Gagasan mengenai kemampuan berpikir tersebut kemudian diperdalam Founder SyaREA World, Syamsul Safin, melalui materi “Kecerdasan Militer untuk Kepemimpinan Bisnis”.
Dalam materinya, Syamsul menjelaskan kecerdasan berkaitan dengan kemampuan mengamati kenyataan secara teliti dan menghubungkannya dengan pengetahuan yang dimiliki. Menurut dia, kecerdasan tidak semata-mata ditentukan oleh pendidikan formal, melainkan juga kemampuan seseorang memahami kenyataan.
“Kecerdasan adalah kekuatan untuk mengamati dan menghubungkan pengetahuan dengan kenyataan,” ujarnya.
Dalam konteks pengusaha, kemampuan tersebut diperlukan agar keputusan tidak hanya lahir dari asumsi atau pengalaman masa lalu. Pengusaha perlu mengamati perubahan, memperkaya pengetahuan, menghubungkan berbagai informasi, kemudian mengubah hasil pemikiran menjadi tindakan.
Syamsul juga membedakan medan penerapan kecerdasan militer dan kecerdasan sipil. Kecerdasan militer digunakan dalam konteks pertahanan dan keamanan, sedangkan kecerdasan sipil diterapkan dalam kehidupan sosial dan ekonomi.
Meski memiliki konteks berbeda, keduanya sama-sama membutuhkan kesungguhan berpikir, kemauan untuk terus belajar, serta kemampuan mencari cara lain ketika suatu pendekatan tidak berhasil.
Dalam dunia bisnis, prinsip tersebut menempatkan kemampuan berpikir sebagai bagian dari daya tahan seorang pengusaha dalam menghadapi perubahan.
“Pengusaha perlu berpikir cemerlang untuk bangkit, tetapi pikiran itu harus diwujudkan dalam usaha nyata,” ujar Syamsul.
Menyiapkan Generasi Penerus
Kehadiran anak-anak lelaki para pengusaha dalam kegiatan tersebut menjadi bagian penting dari konsep SyaREA World. Pembelajaran tidak hanya ditujukan kepada pengusaha senior, tetapi juga generasi yang kelak akan meneruskan kepemimpinan bisnis keluarga.
“Membangun bisnis tidak hanya membutuhkan kemampuan finansial dan skill, tetapi juga karakter. Nilai seperti ketegasan, kedisiplinan, integritas, tanggung jawab, dan kerja sama dapat menjadi bekal bagi generasi penerus untuk menjadi pemimpin yang mempunyai karakter yang kuat,” tegas Mayjen Iwan.
Pentingnya menyiapkan generasi penerus juga menjadi alasan Amiril Mukminin, Owner & CEO PT Generasi Emas Abadi (GEA), memberikan dukungan utama pada kegiatan tersebut.
Menurut Amiril, persoalan bisnis keluarga tidak berhenti pada pencapaian generasi saat ini. Tantangan berikutnya adalah memastikan proses suksesi berjalan dengan baik sehingga keberlanjutan usaha dapat terjaga.
“Tantangan terbesar dalam dunia bisnis saat ini bukan sekadar mencari profit atau memperluas pasar, tetapi bagaimana melakukan suksesi yang berkelanjutan,” ujar Amiril.
Karena itu, GEA melihat pengenalan nilai kedisiplinan, ketegasan, dan tanggung jawab kepada generasi muda sebagai investasi jangka panjang bagi keberlanjutan bisnis keluarga.
“Ketika kami membawa anak-anak lelaki ke Markas PMPP TNI, tujuannya jelas, mewariskan mentalitas pejuang,” jelas Amiril.
Belajar di Masjid Baret Biru Al-Mujahidin
Kegiatan berlangsung di Masjid Baret Biru Al-Mujahidin, salah satu dari dua masjid yang berada di lingkungan Markas PMPP TNI.
Masjid tersebut masih dalam tahap penyelesaian, dengan sejumlah pekerjaan akhir seperti pemasangan keramik dan finishing. Keunikan bangunan ini terletak pada bentuk kubahnya yang mengambil inspirasi dari baret biru, identitas pasukan penjaga perdamaian.
Bagi para peserta, lokasi kegiatan memberikan pengalaman tersendiri karena pembelajaran kepemimpinan berlangsung di lingkungan PMPP TNI sekaligus di ruang ibadah.
Amiril melihat perpaduan antara pembelajaran kepemimpinan, lingkungan militer, dan masjid sebagai bagian penting dari pesan yang ingin dibangun melalui kegiatan tersebut.
“Kekuatan strategi duniawi harus selalu disandarkan pada nilai spiritual. Hal ini menjadi paket lengkap untuk memperkuat mental kepemimpinan sekaligus mengingatkan kembali niat dalam menjalankan bisnis,” cetus Amiril.
Sinergi SyaREA World, PMPP TNI, dan GEA dalam kegiatan tersebut membawa pesan bahwa kepemimpinan bisnis tidak hanya membutuhkan kemampuan membaca peluang. Seorang pemimpin juga dituntut memiliki ketajaman berpikir, karakter, kemampuan beradaptasi, serta keberanian untuk mengubah keputusan menjadi tindakan.
Sebagaimana dirumuskan Syamsul Safin dalam materinya, “Akal adalah alatnya, berpikir adalah kerjanya, dan kecerdasan adalah mutu kerja itu.”
Bagi para pengusaha dan generasi penerusnya, pembelajaran tersebut menjadi bekal untuk menghadapi dunia bisnis yang terus berubah. Mereka dituntut mampu membaca kenyataan dengan jernih, berpikir secara mendalam, mengambil keputusan dengan penuh pertimbangan, lalu bergerak mencapai tujuan.
Adapun SyaREA World merupakan perusahaan Strategic Advisor bisnis yang mengembangkan pendekatan bisnis dengan menggabungkan pertumbuhan usaha, sistem, kepemimpinan, strategi, dan prinsip syariah.
SyaREA World menempatkan persoalan utang sebagai salah satu bagian dari proses transformasi pengusaha. Pendekatan yang digunakan tidak hanya menyentuh aspek finansial, tetapi juga perubahan pola pikir, perilaku, dan tata kelola bisnis.
Melalui berbagai program pembelajaran dan pengembangan kapasitas, SyaREA World mendorong pemilik bisnis untuk tidak hanya mengejar pertumbuhan, tetapi juga membangun bisnis yang memiliki arah, karakter, keberlanjutan, dan nilai. (*)

