Turrima Agro dan TMG International Jajaki Pembangunan Kompleks Pertanian Organik 25 Hektare di Kamerun

Mulyono (Founder & CEO Turrima Agro Mass/tiga dari kiri) berpose bersama mitra bisnisnya di Kamerun, Tebid Harmony Fongang (Presdir TMG International) dan sejumlah delegasi bisnis Kamerun di sela-sela Trade Expo Indonesia (TEI) 2026 di Jakarta. (Foto: CSA Morfosa)
REPUBLIKA ONLINE, JAKARTA -- Perusahaan Indonesia, PT Turrima Agro Mass (Turrima Agro), memperluas penjajakan bisnisnya di pasar internasional melalui kerja sama dengan TMG International (Investment Group PLC Cameroon). Kedua perusahaan menandatangani nota kesepahaman atau memorandum of understanding (MoU) untuk alih teknologi pertanian dan pengembangan kompleks pertanian organik terpadu di Kamerun.

Penandatanganan berlangsung di Jakarta pada Jumat (16/10/2026), di sela-sela Trade Expo Indonesia (TEI) 2026. Duta Besar Luar Biasa dan Berkuasa Penuh Republik Indonesia untuk Republik Kamerun dan sejumlah negara Afrika Tengah, Agung Cahaya Sumirat, menyaksikan langsung penandatanganan tersebut bersama sejumlah pejabat kementerian, delegasi bisnis, dan perwakilan pemerintah daerah.

Kerja sama ini membuka penjajakan proyek percontohan Integrated Organic Agriculture and Fertilizer Complex atau Kompleks Pertanian dan Pupuk Organik Terpadu di atas lahan seluas 25 hektare. Konsepnya tidak hanya mencakup produksi pupuk organik, tetapi juga pengolahan bahan baku, pemanfaatan bioteknologi pertanian, budidaya tanaman, dan peternakan.

Founder dan CEO PT Turrima Agro Mass, Mulyono, mengatakan kerja sama tersebut menandai perubahan pendekatan bisnis perusahaan. Setelah mengekspor pupuk organik ke sejumlah negara, termasuk kawasan Afrika dan Timur Tengah, Turrima Agro kini menjajaki pengembangan kapasitas produksi bersama mitra di negara tujuan.

“MoU ini merupakan pembaruan dari model bisnis yang selama ini kami jalankan. Kami memulai dari ekspor produk pupuk organik, tetapi ke depan kami melihat peluang untuk melangkah lebih jauh melalui alih teknologi dan pengembangan sistem pertanian terpadu bersama mitra lokal,” ujar Mulyono.

Menurut Mulyono, pengembangan produksi di negara tujuan dapat membantu perusahaan mengatasi tingginya biaya logistik. Pengiriman barang dari Indonesia ke Kamerun melalui jalur laut membutuhkan waktu rata-rata 50–60 hari. Selain jarak, ketidakpastian rantai pasok global juga menjadi pertimbangan dalam menentukan strategi ekspansi.

Mulyono (Founder & CEO Turrima Agro Mass), Dr. Raul Ruben Jouno (Konsul Kehormatan Republik Indonesia untuk Kamerun), Agung Cahaya Sumirat (Duta Besar Luar Biasa dan Berkuasa Penuh Republik Indonesia untuk Republik Kamerun dan sejumlah negara Afrika Tengah), serta Tebid Harmony Fongang (Presdir TMG International Kamerun). (Foto dari kiri ke kanan: CSA Morfosa)
Mulyono menegaskan, perusahaan ingin membangun kerja sama yang tidak hanya menciptakan pasar bagi produknya, tetapi juga meningkatkan kemampuan produksi dan pertanian di negara mitra.

Empat Area Pengembangan

Berdasarkan konsep awal, kompleks pertanian terpadu tersebut direncanakan memiliki empat area utama. Pertama, perkantoran dan laboratorium untuk administrasi, penelitian dan pengembangan, pengujian, serta demonstrasi pertanian.

Kedua, pabrik pupuk organik yang mencakup penerimaan bahan baku, pencacahan, pencampuran, pengeringan, penyaringan, penyimpanan produk, dan fasilitas logistik. Ketiga, area penyimpanan dan pengolahan bahan baku, termasuk potensi pemanfaatan frass dari budidaya larva Black Soldier Fly (BSF) serta bahan mineral untuk formulasi produk.


Usai penandatanganan Nota Kesepahaman (MoU) antara PT Turrima Agro Mass (Indonesia) dengan TMG International Cameroon di Jakarta, Jumat (16/10/2026). Kiri-Kanan: Dr.Nana Emmanuel Mbafong (Kepala Divisi Kerjasama Kementerian Ekonomi, Perencanaan dan Pembangunan Regional Kamerun, Agung Cahaya Sumirat (Duta Besar Luar Biasa dan Berkuasa Penuh Republik Indonesia untuk Republik Kamerun), Mulyono (Founder & CEO PT Turrima Agro Mass) dan Tebid Harmony Fongang (Presdir TMG International Cameroon). (Foto: CSA Formosa)
Keempat, area peternakan dan pertanian yang dirancang mencakup peternakan sapi, kambing, unggas, serta budidaya tanaman melalui rumah kaca dan sistem irigasi. Integrasi tersebut diharapkan dapat menghubungkan pengelolaan limbah organik, peternakan, produksi pupuk, dan budidaya tanaman dalam satu sistem.

Meski demikian, rancangan tersebut masih berupa konsep awal. Kedua pihak perlu melakukan kajian teknis, menyesuaikan rencana dengan kondisi setempat, serta menyepakati kebutuhan operasional sebelum proyek direalisasikan.

Peluang Pasar Afrika Tengah

Founder SyaREA World, Syamsul Safin, mendorong Turrima Agro dan perusahaan anggota lainnya untuk memperluas pasar hingga tingkat global. Turrima Agro sendiri mulai memasuki pasar Afrika dan Kuwait pada 2021, dengan volume permintaan awal sekitar empat hingga lima kontainer per tahun.

Mulyono (Founder & CEO Turrima Agro Mass/kanan) berbincang dengan mitra bisnis dari Kamerun, Tebid Harmony Fongang (Presdir TMG International), didampingi Dewi J Meidiwaty (Direktur Afrika di Kementerian Luar Negeri). (Foto: CSA Morfosa)
Duta Besar RI untuk Kamerun, Agung Cahaya Sumirat, menilai negara tersebut memiliki peluang pasar yang besar bagi produk dan teknologi Indonesia. Kamerun berpenduduk sekitar 30 juta jiwa dan menjadi bagian penting dari kawasan CEMAC (Komunitas Ekonomi dan Moneter Afrika Tengah), yang mencakup enam negara dengan total populasi sekitar 60 juta jiwa.

“Pemerintah Kamerun sangat memprioritaskan sektor pertanian, peternakan, dan perikanan—bidang yang selaras dengan keunggulan hilirisasi Indonesia. Kehadiran perusahaan Indonesia disambut sangat baik, bahkan disiapkan berbagai insentif kemudahan termasuk keringanan pajak,” kata Agung.

Presiden Direktur TMG International, Tebid Harmony Fongang, juga mendorong pelaku usaha Indonesia untuk lebih aktif menjajaki peluang di pasar Afrika. “Kita tidak bisa hanya duduk diam. Kita harus 'pro', terbang ke Kamerun, mengamati pasarnya, dan membawa teknologi nyata untuk dikembangkan bersama,” ujarnya.

Turrima Agro juga menyebut Menteri Pertanian dan Pengembangan Pedesaan Republik Kamerun, Gabriel Mbairobe, pernah mengirimkan surat penghargaan kepada perusahaan tersebut. Dalam surat itu, menurut keterangan perusahaan, Menteri Mbairobe mengakui manfaat pupuk organik Turrima terhadap hasil pertanian dan kesehatan tanah.

Mulyono (Founder & CEO Turrima Agro Mas) bersama mitra bisnisnya dari Kamerun, Tebid Harmony Fongang (Presdir TMG International Cameroon). (Foto: CSA Morfosa)
Perusahaan turut menyampaikan bahwa penerapan pupuk organiknya di Afrika mampu meningkatkan produksi padi hingga 40 persen. Angka tersebut merupakan klaim berdasarkan data lapangan yang disampaikan perusahaan dan belum disertai rincian metodologi pengukuran dalam siaran pers.

Sementara itu, Dr. Nana Emmanuel Mbafong, Kepala Divisi Kerja Sama Kementerian Ekonomi, Perencanaan, dan Pembangunan Regional Kamerun, menyebut hubungan ekonomi Indonesia dan Kamerun termasuk yang tumbuh pesat dalam tiga tahun terakhir. Ia mendorong penguatan perdagangan digital, penyederhanaan prosedur bea cukai, dan perluasan akses informasi pasar untuk mempererat kerja sama kedua negara.

Melalui MoU ini, Turrima Agro dan TMG International menjajaki peluang kerja sama yang melampaui ekspor produk. Namun, realisasi kompleks pertanian organik terpadu tersebut tetap bergantung pada hasil kajian lanjutan, kesiapan mitra, kebutuhan pasar, dan kesepakatan teknis kedua pihak.  (*)