Namun, syariat Islam juga mengenal ibadah sholat ghaib ketika situasi tidak memungkinkan umat untuk melayat secara langsung ke lokasi jenazah berada.
Perbedaan paling mendasar antara kedua ibadah ini terletak pada kehadiran fisik jasad. Sholat jenazah dilakukan tepat di hadapan jasad yang telah dimandikan serta dikafani.
Sementara itu, sholat ghaib dilaksanakan tanpa kehadiran jasad di depan jemaah, umumnya karena faktor jarak yang jauh, keberadaan jasad di daerah lain, atau situasi ketika jasad korban musibah belum ditemukan.
Mayoritas ulama, termasuk kalangan mazhab Syafi'i dan Hanbali, membolehkan pelaksanaan sholat ghaib dengan menyandarkan dalil pada keteladanan Nabi Muhammad SAW. Rasulullah SAW pernah menunaikan sholat ghaib di Madinah ketika menerima kabar wafatnya Raja Najasyi yang berpulang di Negeri Habasyah.
Pelaksanaan sholat ghaib ini menjadi wujud kepedulian spiritual sekaligus ikhtiar mengirimkan permohonan ampunan bagi almarhum dari kejauhan.
Dari segi tata cara dan bacaan, kedua sholat tersebut tidak memiliki perbedaan teknis yang signifikan. Ibadah ini sama-sama ditunaikan dalam posisi berdiri tegak tanpa gerakan rukuk maupun sujud, dengan urutan empat takbir sebagai berikut:
1. Membaca Niat: Jamaah melafalkan niat sholat jenazah atau sholat ghaib sesuai status jenazah.
2. Takbir Pertama: Melakukan takbiratul ihram yang dilanjutkan dengan membaca Surah Al-Fatihah.
3. Takbir Kedua: Mengangkat tangan untuk takbir kedua, kemudian membaca selawat kepada Nabi Muhammad SAW.
4. Takbir Ketiga: Mengumandangkan takbir ketiga lalu membaca doa permohonan ampunan dan rahmat khusus bagi almarhum.
5. Takbir Keempat: Melakukan takbir keempat dan menyambungnya dengan doa penutup bagi keluarga yang ditinggalkan serta seluruh kaum muslimin.
6. Salam: Menutup rangkaian ibadah dengan memalingkan wajah ke kanan dan ke kiri sembari mengucap salam.
Dengan memahami esensi dan perbedaan antara sholat jenazah dan sholat ghaib, umat Muslim dapat menunaikan kewajiban fardhu kifayah ini secara benar serta memberikan doa terbaik bagi orang-orang yang telah berpulang ke rahmatullah. (*)
